-
Wushul Kepada Allah
Wushul adalah sampai, wushul ilaAllah ialah melihat Allah dengan ainul bashiroh (mata hati) yang mana dalam kenyakinan yang sudah wushul telah benar-benar yakin akan adanya Allah.
-
Marhaban yaa Ramadhan
Mari kita jemput keberkahan dan rahmat Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, insyaallah pada bulan Ramadhan tahun ini.
-
Makna Istiqomah?
istiqomah memiliki arti tegak, lurus atau dalam bahasa yang lebih enaknya adalah konsisten.
Senin, 18 Maret 2019
Salam
online status ini hanya berlaku pada jaringan wifi mandiri residence
Assalamu'alaikum Wr Wb Alhamdulillah, kita jumpa lagi ...
Melalui Website ini kita berkomunikasi antar jama'ah Mushalla kita tercinta.
Meski disana sini masih banyak kekurangan, Saran dan masukan kami harapkan.
Admin ingin memberikan contoh voucer User / password ( MANDIRI18 / z7v7yK ) bisa digunakan 5 alat secara bergantian berlaku 1 bulan. Informasi berbagi wifi Infaq dan Shodaqah Hubungi via whatsapp 081358185555. Semoga amal ibadah kita diterima Allah Subhana Wata'ala.
Ngomong2 soal bypass di alat tertentu dalam satu jaringan, memang Admin berikan kebijaksanaan tertentu, pastinya bukan untuk anak anak yaa, ma'af ...
Melalui Website ini kita berkomunikasi antar jama'ah Mushalla kita tercinta.
Meski disana sini masih banyak kekurangan, Saran dan masukan kami harapkan.
Admin ingin memberikan contoh voucer User / password ( MANDIRI18 / z7v7yK ) bisa digunakan 5 alat secara bergantian berlaku 1 bulan. Informasi berbagi wifi Infaq dan Shodaqah Hubungi via whatsapp 081358185555. Semoga amal ibadah kita diterima Allah Subhana Wata'ala.
Ngomong2 soal bypass di alat tertentu dalam satu jaringan, memang Admin berikan kebijaksanaan tertentu, pastinya bukan untuk anak anak yaa, ma'af ...
ttd
@dmin
Terimakasih
Bersyukur adalah kewajiban setiap insan manusia untuk mengakui
kebesaran Tuhan akan rahmatnya yang tiada henti. Akan tetapi, terkadang
manusia sulit sekali mengucapkan rasa syukur saat menghadapi diguncang
berbagai macam cobaan hidup. Bersyukur tidak hanya dalam bentuk ucapan
saja, namun juga dalam hal perbuatan dan hati kita. Sebab, Tuhan yang
mengetahui seluruh isi hati kita bahkan sebelum kita mengucapkannya.
Menghadapi cobaan hidup yang berat seringkali membuat kita lupa dan
menyalahkan Tuhan mengapa kita mengalami hal ini. Padahal, kita sebagai
insan manusia, harus bersyukur atas cobaan yang diberikan karena itu
artinya Dia menguji kadar keimanan kita. Seringkali saat kita
mendapatkan masalah kita merasa iri dengan apa yang didapatkan orang
lain. Kita sering sekali kita tidak pernah tahu apa yang sedang mereka
alami. Mengapa kita bisa berpikir seperti itu karena kita cenderung
berpikir dari luarnya saja tanpa melihat lebih dalam apa yang sedang
terjadi. Kita harus senantiasa ingat bahwa kegagalan yang sedang kita
alami adalah jalan menuju lebih baik dan cara Tuhan menaikkan derajat
seorang hamba.
Meskipun bersyukur bukanlah hal-hal yang mudah, berikut adalah cara mudahnya agar mendapatkan manfaat bersyukur.
Selalu melihat kebawah
Senantiasa melihat kebawah adalah cara mudah agar kita senantiasa
bersyukur. Cobalah untuk sennatiasa melihat kebawah dan pahami apa yang
sedang mereka alami. Tidakkah kita jauh lebih baik?
Selalu ingat nikmat Allah
Ingatlah nikmat yang Allah berikan kepada kita. Tentu kita tidak akan
mampu menghitung setiap berkah yang deberikan setiap detik kepada kita.
Hal ini akan membuat kita senantiasa bahagia dan manfaat bersyukur bisa
kita dapatkan.
Ucapkan “Alhamdullilah”
Senantiasa ucapkan hamdalah atas karunia yang diberikan Allah yang
menyayangi dan mencintai kita. Tidak hanya itu, selalu usahakan agar
anda senantiasa berterimakasih pada setiap orang. Dengan begitu mereka
juga akan melakukan hal yang sama. Inilah manfaat bersyukur yang
sesungguhnya.
Berhenti Mengeluh
Mengeluh hanya akan membuat beban anda semakin bertambah. Seringkali
kita mengeluhkan masalah yang kita hadapi. Kita selalu berkata, “mengapa
harus saya?”
Pahami Kapan Kita Harus Bersyukur
Saat Bangun Pagi
Awalilah hari anda dengan cara bersyukur setiap hari setelah bangun
tidur. Jangan lupa bersyukurlah atas perlindungan-Nya pada hidup anda.
Seperti mensyukuri anda bertemu teman-teman yang baik seperti sekarang.
hal-hal kecil seperti inilah Ingat, apa yang kita dapat hingga saat ini
merupakan karunianya dan Allah akan menambah manfaat bersyukur.
Apa manfaat bersyukur?
Memiliki segala apa yang kita inginkan membuat kita menyadari, jika kita
sangat mudah mencapai sesuatu, lalu apa lagi yang harus kita cari?
ketidaktahuan, masa-masa sulit dan segala cobaan yang besar seharusnya
membuat kita senantiasa bersyukur dan menjadikan hal ini sebagai
motivasi yang baik.
Tahukah anda, bahwa bersyukur akan membuat anda menjadi bahagia. Kenapa,
saat kita bersyukur berarti kita mengikhlaskan apa yang kita punya
sekarang. Mengeluh hanya akan menambah masalah dan menambah beban hidup
anda.
Dengan membanding-bandingkan nikmat, anda hanya akan semakin terpuruk
dan selalu merasa kurang. Janganlah hanya berkeluh kesah terhadap
sesuatu yang kita punya sekarang. Jika anda tidak memiliki sesuatu, maka
berusahalah dan beryukurlah karena apa yang anda dapatkan dengan usaha,
anda memiliki level yang lebih mulia.
Kamis, 14 Maret 2019
Sidratul Muntaha
ALLAHU AKBAR ternyata bacaan shalat itu dpt membuat kita seperti berada di syurga...
Mari kita camkan dan renungkan kisah berikut ini, tentu akan berlinang air mata kita, Masya Allah...
Singkat cerita, pada malam itu Jibril AS mengantarkan Rasulullah SAW naik ke Sidratul Muntaha. Namun karena Jibril AS tdk diperkenankan utk mencapai Sidratul Muntaha, maka Jibril AS pun mengatakan kepada Rasulullah SAW utk melanjutkan perjalanan sendiri tanpa dirinya...
Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan perlahan sambil terkagum-kagum melihat indahnya istana ALLAH SWT hingga tiba di Arsy...
Setelah sekian lama menjadi seorang Rasul, inilah pertama kalinya Muhammad SAW berhadapan dan berbincang secara langsung dg ALLAH Azza wa Jalla...
Bayangkanlah betapa indah dan luar biasa dahsyatnya moment ini, Masya Allah...
PERCAKAPAN Antara Muhammad Rasulullah SAW dg ALLAH Subhanahu wata'ala :
a). Rasulullah SAW pun mendekat dan memberi salam penghormatan kepada ALLAH SWT :
ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH...
(Semua ucapan penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik ALLAH).
b). Kemudian Allah SWT menjawab sapaannya :
ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
(Segala pemeliharaan dan pertolongan ALLAH untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat ALLAH dan segala karunia-Nya).
c). Mendapatkan jawaban seperti ini, Rasulullah SAW tdk merasa jumawa atau berbesar diri, justru beliau tidak lupa dengan umatnya (ini yang membuat kita sangat terharu)...
Beliau menjawab dengan ucapan :
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
(Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kpd kami dan semua hamba ALLAH yg shalih).
Bacalah percakapan mulia itu sekali lg… itu adalah percakapan ALLAH SWT dan hamba-NYA, Sang Pencipta dan ciptaan-NYA dan mereka saling menghormati satu sama lain, menghargai satu sama lain dan lihat betapa Rasulullah SAW mencintai kita umatnya, bahkan beliau tdk lupa dg kita ketika Dia dihadapan ALLAH SWT...
d). Melihat peristiwa ini, para malaikat yg menyaksikan dari luar Sidratul Muntaha tergetar dan ter-kagum2 betapa Rakhman dan Rakhimnya ALLAH SWT, betapa mulianya Muhammad SAW...
Kemudian para malaikat pun mengucap dg penuh keyakinan :
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
(Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain ALLAH dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul Allah).
Jadilah RANGKAIAN PERCAKAPAN dlm peristiwa ini menjadi suatu bacaan dlm SHALAT yaitu pd posisi TAHIYAT Awal dan Akhir, yg kita ikuti dg shalawat kpd Nabi sebagai sanjungan seorang individu yg menyayangi umatnya...
MUNGKIN sebelumnya kita tdk terpikirkan arti dan makma kalimat dlm bacaan Sholat ini.
Mudah2an dg penjelasan singkat ini kita dpt lbh meresapi makna shalat kita. Sehingga kita dapat merasakan getaran yg dirasakan oleh para malaikat disaat peristiwa itu...
وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب
Smg bermanfaat utk menambah kekhusu'an sholat kita, Aamiin Allahumma Aamiin...
Marhaban yaa Ramadhan
Mari kita jemput keberkahan dan rahmat Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, insyaallah pada bulan Ramadhan tahun ini .
“Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mendengar seorang wanita tengah mencaci-maki hamba sahayanya, padahal ia sedang berpuasa. Nabi saw, segera memanggilnya. Lalu Beliau menyuguhkan makanan seraya berkata, “Makanlah hidangan ini “. Keruan saja wanita itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku sedang berpuasa”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata dengan nada heran, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sambil mencaci-maki hamba sahayamu ?”. Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai penghalang (hijab) bagi seseorang dari segala kekejian ucapan maupun perbuatan. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang lapar”. (HR Bukhari)
Dengan hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ingin mengingatkan kaum Muslim hakikat puasa yang sebenarnya. Istilah shaum bersumber dari bahasa Arab yang artinya, menahan, mengekang atau mengendalikan (al-imsak).
Secara syariat (fikih), makna puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan mulai terbitnya fajar shubuh hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat.
Puasa terdiri dari tiga tingkatan.
Puasa perut, tingkatan paling awal adalah puasa yang memenuhi syariat, yakni puasa muslim pada umumnya.
Puasa hawa nafsu, tingkatan selanjutnya setelah puasa perut, puasa sesauai syariat yang diikuti dengan menahan hawa nafsu.
“Apabila engkau berpuasa hendaknya telingamu berpuasa dan juga matamu, lidahmu dan mulutmu, tanganmu dan setiap anggota tubuhmu atau setiap panca inderamu” (al Hadits).
Puasa qalbu, tingkatan tertinggi setelah puasa hawa nafsu, puasa yang diikuti dengan menahan dari segala kecenderungan yang rendah dan pikiran yang bersifat duniawi, serta memalingkann diri dari segala sesuatu selain Allah.
Keadaan sadar(kesadaran) atau perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah (dzikrulllah) inilah kunci dari Taqwa
Sayidina Ali bin Abi Thalib ra mengatakan “Puasa Qalbu adalah menahan diri dari segala pikiran dan perasaan yang menyebabkan terjatuh pada dosa”.
Bertemu Allah
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari).
Sebagian muslim memahami bahwa yang dimaksud dengan hadits ini adalah dengan amal puasa kita dapat bertemu dengan Allah di akhirat kelak.
Benar, bahwa dengan amal puasa dan amal-amal lainnya yang menunjukkan tingkat ketaqwaan seorang muslim yang dapat menghantarkan pada kenikmatan tertinggi dari semua kenikmatan yang ada di surga adalah melihat (bertemu) Allah..
Bahkan bagi mereka yang berpuasa, telah tersedia pintu khusus untuk mereka
Dari Sahl dari Nabi bersabda : Sesungguhnya dalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama Ar Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat, dan selain mereka tidak akan masuk melaluinya. ….(Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)
Namun sesungguhnya kegembiraan berpuasa, bertemu dengan Allah dapat juga kita rasakan atau kita alami saat kita di dunia.
Mereka yang merasakan bertemu Allah di dunia adalah mereka yang gemar mengadukan segala macam persoalan kehidupannya di dunia ke hadapan Allah. Mereka yang dengan sesungguhnya mengatakan bahwa,
“….. hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS Al Fatihah [1] : 5 )
Mereka-mereka yang gembira dilihat Allah Azza wa Jalla.
Mereka-mereka yang gembira bertemu dengan Allah Azza wa Jalla di dunia.
Sebagian muslim belum mengimani bahwa kita dapat bertemu dengan Allah Azza wa Jalla di dunia walaupun kita tidak dapat melihatNya.
Sebagian muslim belum mengimani bertemu dengan Allah Azza wa Jalla di dunia karena kesalahpahaman memahami firman Allah ta’ala yang artinya,
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” [QS Al-An’aam: 103]
Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi Musa Alaihissalam
“Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku.” [QS Al-A’raaf: 143]
Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang akan bisa melihat Rabb-nya hingga ia meninggal dunia” (HR Muslim)
Juga pernyataan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata.
“Barangsiapa menyangka bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabb-nya, maka orang itu telah melakukan kebohongan yang besar atas Nama Allah.” (Muslim)
Firman-firman Allah dan hadits diatas adalah petunjuk bahwa Allah tidak dapat kita lihat di dunia dengan mata kepala (secara dzahir / lahiriah).
Namun kita dapat menghadap kepada Allah, bersama Allah, bertemu Allah, berlari kepada Allah (Fafirruu Ilallah) ketika di dunia walaupun kita di dunia tidak dapat melihatNya.
Sebagai contoh bahwa kita menghadap Allah, bertemu Allah ketika di dunia adalah mendirikan sholat.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin , “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.
Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Azza wa Jalla.
Sebagian muslim tidak menyadari bahwa mereka menghadap Allah Azza wa Jalla, bertemu Allah Azza wa Jalla di dunia. Mereka beribadah (menyembah Allah) tanpa merasakan menghadap ke hadhirat Allah.
Sebagian muslim di dunia bahkan “menghindari” menghadap Allah Azza wa Jalla atau “menghindari” bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, seolah-olah mereka dapat tidak terlihat oleh Allah Azza wa Jalla di dunia padahal Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.
Maka kerugian besar bagi muslim yang belum dapat merasakan seolah-olah melihat Allah Azza wa Jalla di dunia, bertemu Allah Azza wa Jalla, bersama dengan Allah ketika di dunia.
“Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
Mereka secara tidak disadari mengingkari apa yang mereka ucapkan bahwa “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS Al Fatihah : 1)
Sesungguhnya, “dengan menyebut nama Allah” itu adalah “dengan dzatNya”, bersama Allah, bertemu Allah, berlari kepada Allah (Fafirruu Ilallah).
Jadi, muslim yang berpuasa dan dapat mengalami, merasakan kegembiraan bertemu dengan Allah di dunia dan mengharapkan tetap bertemu dengan Allah di akhirat kelak adalah mereka yang telah menjalankan puasa qalbu. Selama mereka berpuasa mereka melakukan secara sadar dan mengingat Allah. Mereka bersama Allah.
“Buatlah perut-perutmu lapar dan qalbu-qalbumu haus dan badan-badanmu telanjang, mudah-mudah an qalbu kalian bisa melihat Allah di dunia ini (HR Bukhari).
“Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”
“Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”
Wassalam
Referensi
Wushul Kepada Allah
Wushul adalah sampai, wushul ilaallah ialah melihat Allah dengan ainul bashiroh (mata hati) yang mana dalam kenyakinanorang yang sudah wushul tersebut telah benar-benar yakin akan adanya Allah. Hal ini berbeda dengan penglihatan mata secara dhahir. Wushul ini merupakan pengalaman kerohanian bukan secara nyata seperti halnya Nabi Musa yang secara jasmani takkan mampu melihat Alllah, tetapi pingsannya Nabi Musa adalah tanda bahwa ruhaninya melihat Allah. Terkait Wushul Setiap insan mempunyai potensi untuk wushul kepada Allah sesuai yang dikendakiNya, hal itu bisa dilalui melalui guru, berthariqot dan lain-lain.
Dalam kitabnya Jami’ah Al-maqhosid, Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan cara Wushul Kepada Allah sebagaimana berikut:
Diantara dzikir-dzikir tersebut adalah:
Allahuma bika nusbihu wa bika numsi wa bika nuhyi wabika namutu wa ilaikan nusur shobahan wal masir masyaan, asabahna waasbaha milku lillahi walhamdu lillahi wal kibriyau wal adhomatu lillahi wal kholqu lillahi wal amru, wal lailu wannaharu ma wa ma sakana fihima lillahi. Allahumma ma asbaha bii min ni’matin aw biahadin min kholqika faminka wahdaka la syarika laka, falakal hamdu walakas syukru. (dibaca3x)
Allahumma inni asbahtu asyhaduka wa asyahadu hamlata ‘arsyika wa malaikatika wa jami’i kholkiak, innaka anta allahu la ilah illa anata wahdaka la syarika laka wa inna muhammadan ‘abduka wa rusuluka (dibaca 4X)
Roditubillahi rabba wa bil islami dinan wabisayyidina muhammadin nabiyya warosulla (dibaca 3x)
Amanar rosulu bima unzila ilaihi mir robbihi wal mu’mina kullun amana billahi wa malaikatuhu wa kutubihi wa rusuulihi la nuaffariqu baina ahadim min rusulihi wa qolu sami’na wa atho’na ghufronaka robbana wa ilaikal mashiru la yukallifullaahu nafsan illa wus’aha laha ma kasabat wa’ alaiha maktasabat robbana la taukhidna in nashina au akhho’na robbana wa la tahmil a’laina ishron kama hamaltahu a’lladzina min qoblina robbana wa la tuhammilna ma la thoqota lana bihi wa’fu anna waghfir lana warhamna anta maulana fanshurna ala qoumil kafirin, fain tawallau faqul hasbiyallahu la ilaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa robbul arsyil ‘adhim (dibaca 7 x).
Fa subhanallahi hina tumsunabwa hina tusbihun wa lahul hamdu…. hingga firman Allah “tuhrojuna”.
Surat yasin
‘Audzu billahis sami’il ‘alimi minas syaithonir rojim (dibaca 3x)
Lau anzalna hadzal qur’ana ala jabalin laroaitahum li sajidin..hingga akhir surat.
Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas (dibaca 3x)
‘Audzu bi kalimatillahit tammati min ghodobihi wa ‘iqobihi wa syarri ‘ibadihi wa min hamazatis syathini wa an yadhurruni (dibaca 3x)
Astagfirullahal adhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaihi (dibaca 3x)
Jika masih memiliki waktu dianjurkan membaca:
Subahanallahi wal hamdu lillahi wala ilaha illallahu wallahu akbaru (100x)
Wa lahaula wa la quwawata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim (dibaca 100x)
La ilaha illahu wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodirun (dibaca 100x atau 3 x)
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin ‘abdika wa nabyyika wa habibika wa rosulikan nabiiyil ummiyil wa’ala alihi wa shohbihi wa sallim (dibaca 100x atau 3 x)
Demikian, semoga kita mendapat pertolonganNya, diberikan TaufiqNya agar mendapat hidayahNya meniti jalan yang benar sehingga kita dapat benar-bepar wushul kepadaNya.
Referensi
Dalam kitabnya Jami’ah Al-maqhosid, Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan cara Wushul Kepada Allah sebagaimana berikut:
- Taubat (meninggalkan) dari segala hal yang haram dan yang makruh
- Mencari ilmu sesuai kebutuhan
- Melanggengkan diri dalam keadaan suci
- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat fardhu di awal waktu dengan berjamaah
- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah rawatib
- Melanggengkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat
- Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah sebanyak enam rokaat diantara Magrib dan Isya
- Melakukan sholat malam dan Sholat witir
- Puasa sunnah di hari Senin dan Kamis
- Puasa sunnah tiga hari dalam ayyamuk biid(pertengahan bulan Hijriyah, ketika bulan purnama)
- Puasa di hari-hari mulia
- Membaca Al Quran dengan penuh penghayatan
- Memperbanyak Istighfar
- Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Diantara dzikir-dzikir tersebut adalah:
Allahuma bika nusbihu wa bika numsi wa bika nuhyi wabika namutu wa ilaikan nusur shobahan wal masir masyaan, asabahna waasbaha milku lillahi walhamdu lillahi wal kibriyau wal adhomatu lillahi wal kholqu lillahi wal amru, wal lailu wannaharu ma wa ma sakana fihima lillahi. Allahumma ma asbaha bii min ni’matin aw biahadin min kholqika faminka wahdaka la syarika laka, falakal hamdu walakas syukru. (dibaca3x)
Allahumma inni asbahtu asyhaduka wa asyahadu hamlata ‘arsyika wa malaikatika wa jami’i kholkiak, innaka anta allahu la ilah illa anata wahdaka la syarika laka wa inna muhammadan ‘abduka wa rusuluka (dibaca 4X)
Roditubillahi rabba wa bil islami dinan wabisayyidina muhammadin nabiyya warosulla (dibaca 3x)
Amanar rosulu bima unzila ilaihi mir robbihi wal mu’mina kullun amana billahi wa malaikatuhu wa kutubihi wa rusuulihi la nuaffariqu baina ahadim min rusulihi wa qolu sami’na wa atho’na ghufronaka robbana wa ilaikal mashiru la yukallifullaahu nafsan illa wus’aha laha ma kasabat wa’ alaiha maktasabat robbana la taukhidna in nashina au akhho’na robbana wa la tahmil a’laina ishron kama hamaltahu a’lladzina min qoblina robbana wa la tuhammilna ma la thoqota lana bihi wa’fu anna waghfir lana warhamna anta maulana fanshurna ala qoumil kafirin, fain tawallau faqul hasbiyallahu la ilaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa robbul arsyil ‘adhim (dibaca 7 x).
Fa subhanallahi hina tumsunabwa hina tusbihun wa lahul hamdu…. hingga firman Allah “tuhrojuna”.
Surat yasin
‘Audzu billahis sami’il ‘alimi minas syaithonir rojim (dibaca 3x)
Lau anzalna hadzal qur’ana ala jabalin laroaitahum li sajidin..hingga akhir surat.
Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas (dibaca 3x)
‘Audzu bi kalimatillahit tammati min ghodobihi wa ‘iqobihi wa syarri ‘ibadihi wa min hamazatis syathini wa an yadhurruni (dibaca 3x)
Astagfirullahal adhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaihi (dibaca 3x)
Jika masih memiliki waktu dianjurkan membaca:
Subahanallahi wal hamdu lillahi wala ilaha illallahu wallahu akbaru (100x)
Wa lahaula wa la quwawata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim (dibaca 100x)
La ilaha illahu wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodirun (dibaca 100x atau 3 x)
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin ‘abdika wa nabyyika wa habibika wa rosulikan nabiiyil ummiyil wa’ala alihi wa shohbihi wa sallim (dibaca 100x atau 3 x)
Demikian, semoga kita mendapat pertolonganNya, diberikan TaufiqNya agar mendapat hidayahNya meniti jalan yang benar sehingga kita dapat benar-bepar wushul kepadaNya.
Referensi
Rabu, 13 Februari 2019
Takdir Atau Nasib??
Pembahasan tentang takdir adalah salah satu tema yang tergolong rumit sebab dalil-dalil yang sampai pada kita sepintas saling bertentangan satu sama lain. Sebagian dalil Al-Qur’an dan hadits mengatakan bahwa semua kejadian di dunia ini sudah tercatat di Lauh Mahfudz dan pena yang mencatatnya telah kering sehingga tak mungkin berubah. Sebagian dalil lain menegaskan bahwa doa manusia dapat mengubah takdir, demikian juga silaturahim dapat memperpanjang umur dari waktu yang telah ditentukan. Sebagian dalil lainnya memerintahkan kita untuk melakukan aneka perbuatan baik sehingga bisa meraih kehidupan bahagia di dunia maupun akhirat, ini semua mengisyaratkan bahwa ikhtiar manusia punya andil besar dalam menentukan jalan takdir yang akan ia tempuh. Sebenarnya bagaimanakah takdir itu?
Untuk menjawab kerumitan di atas, sebagian ulama kemudian membagi takdir (qadla’) menjadi dua macam, yakni: Pertama, takdir mubram, yaitu takdir yang sudah paten tidak dapat diubah dengan cara apa pun. Misalnya takdir harus lahir dari orang tua yang mana, di tanggal berapa dan lain sebagainya yang sama sekali tidak ada opsi bagi manusia untuk memilih. Kedua, takdir mu’allaq, yaitu takdir yang masih bersifat kondisional sehingga bisa diubah dengan ikhtiar manusia. Misalnya takdir miskin dapat diubah dengan doa dan kerja keras, takdir sakit dapat diubah dengan doa dan berobat, dan sebagainya yang melibatkan ruang usaha bagi manusia.
Sepintas pembagian takdir menjadi dua kategori, mubram dan mu’allaq, ini sudah cukup memecahkan masalah. Tetapi faktanya tidak sesederhana itu. Masalahnya, sama sekali tak ada informasi dari hadits yang menyatakan hal-hal apa saja yang masuk kategori mubram dan mu’allaq. Adapun keyakinan sebagian orang awam bahwa takdir mubram hanyalah tiga macam, yakni rezeki, jodoh, dan kematian, adalah anggapan yang sama sekali tak berdasar.
Klasifikasi mubram dan mu’allaq ini tetap saja tidak aplikatif. Misalnya kemiskinan, apakah termasuk mubram atau mu’allaq? Kita melihat ada orang miskin yang seumur hidupnya berdoa dan berusaha keras keluar dari kemiskinannya, tetapi hingga akhir hayatnya dia tetap miskin. Kejadian ini menunjukkan bahwa kemiskinan orang itu sudah mubram. Namun kita juga melihat orang miskin yang dengan usahanya dapat mengubah nasibnya secara drastis menjadi orang kaya, bahkan sangat kaya. Kejadian ini menunjukkan bahwa kemiskinan orang tersebut masih mu’allaq. Hal yang sama berlaku pada semua kasus di dunia ini, mulai sakit, keberuntungan, kecelakaan bahkan kematian sekalipun. Bagian manakah di antara semua itu yang mubram dan bagian mana yang mu’allaq? Kita takkan pernah tahu sebelum terjadinya.
Sebenarnya, semua kerumitan di atas dapat terurai dan mudah dipahami apabila kita melihat takdir (qadla’) dari tiga perspektif yang berbeda. Kerumitan dan kerancuan itu hanya terjadi akibat ketiga perspektif ini dicampur menjadi satu, padahal seharusnya dibedakan dengan tegas. Tiga perspektif yang dimaksud adalah perspektif Allah, perspektif malaikat, dan perspektif manusia.
Takdir dalam perspektif Allah
Al-Qur’an, hadits dan dalil-dalil rasional telah memastikan bahwa Allah Maha Mengetahui. Sifat al-‘ilmu yang dimiliki Allah dapat menjangkau apa pun tanpa batas, baik hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Tak ada satu pun kejadian, bahkan yang paling kecil sekalipun semisal kejadian di inti atom, yang tak Allah ketahui. Allah berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. al-An’am: 59)
Dalam perspektif Allah ini, seluruh takdir (qadla’) adalah mubram tanpa kecuali. Seluruhnya telah diketahui sebelumnya dan akan berubah menjadi kenyataan (qadar) pada waktunya. Sisi inilah yang tak mungkin mengalami perubahan sama sekali sebab adanya perubahan di level ini sama saja dengan adanya hal-hal yang tidak diketahui Allah. Ketidaktahuan Allah ini mustahil adanya.
Takdir dalam perspektif Malaikat
Para Malaikat mempunyai tugas yang beragam, sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakan mereka. Di antara tugas malaikat yang kita ketahui adalah: membagi-bagi rezeki, ini adalah tugas Mikail; ada yang bertugas mencabut nyawa, ini adalah tugas Malaikat Maut (Izra’il); ada yang bertugas mencatat amal baik dan amal buruk, ini adalah tugas Raqib dan Atid. Dan, banyak sekali jumlah malaikat yang info tentang tugasnya tak sampai pada kita.
Dalam perspektif malaikat inilah, takdir setiap manusia yang tercatat di Lauh Mahfudz ada yang sudah mubram (paten tak bisa berubah) dan ada yang masih mu’allaq (kondisional). Mereka bisa melihat apakah rezeki Si Fulan sudah merupakan hal paten yang tak bisa diganggu gugat ataukah masih tergantung pada beberapa kondisi yang di pilih Fulan tersebut, misalnya apabila Fulan bekerja keras, maka takdirnya adalah kaya sedangkan apabila memilih bermalasan maka takdirnya menjadi orang miskin. Demikian juga dengan hidayah, penyakit, umur atau apa pun yang terjadi pada Fulan tersebut.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:
فَالْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ بِالنِّسْبَةِ لِمَا فِي عِلْمِ الْمَلَكِ وَمَا فِي أُمِّ الْكِتَابِ هُوَ الَّذِي فِي عِلْمِ اللَّهِ تَعَالَى فَلَا مَحْوَ فِيهِ أَلْبَتَّةَ وَيُقَالُ لَهُ الْقَضَاءُ الْمُبْرَمُ وَيُقَالُ لِلْأَوَّلِ الْقَضَاءُ الْمُعَلَّقُ
“Penghapusan dan penetapan takdir itu adalah dalam perspektif apa yang diketahui para malaikat dan apa yang tercatat di Lauh Mahfudz (Ummul Kitab). Adapun dalam pengetahuan Allah, maka tak ada penghapusan sama sekali. Pengetahuan Allah ini disebut takdir mubram, dan pengetahuan malaikat itu disebut takdir mu’allaq.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz X, halaman 416)
Takdir dalam perspektif manusia.
Bila malaikat bisa melihat sisi takdir yang mubram dan mu’allaq, manusia hanya sepenuhnya hanya bisa mengetahui sisi mu’allaq saja apabila belum tiba waktu kejadiannya. Dalam konteks ini, Imam Ibnu Hajar menjelaskan:
وَأَنَّ الَّذِي سَبَقَ فِي عِلْمِ اللَّهِ لَا يَتَغَيَّرُ وَلَا يَتَبَدَّلُ وَأَنَّ الَّذِي يَجُوزُ عَلَيْهِ التَّغْيِيرُ وَالتَّبْدِيلُ مَا يَبْدُو لِلنَّاسِ مِنْ عَمَلِ الْعَامِلِ وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَتَعَلَّقَ ذَلِكَ بِمَا فِي عِلْمِ الْحَفَظَةِ وَالْمُوَكَّلِينَ بِالْآدَمِيِّ فَيَقَعُ فِيهِ الْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ كَالزِّيَادَةِ فِي الْعُمُرِ وَالنَّقْصِ وَأَمَّا مَا فِي عِلْمِ اللَّهِ فَلَا مَحْوَ فِيهِ وَلَا إِثْبَاتَ
“Sesungguhnya yang telah diketahui Allah itu sama sekali tak berubah dan berganti. Yang bisa berubah dan berganti adalah perbuatan seseorang yang tampak bagi manusia dan yang tampak bagi para malaikat penjaga (Hafadhah) dan yang ditugasi berinteraksi dengan manusia (al-Muwakkilîn). Maka dalam hal inilah terjadi penetapan dan penghapusan takdir, semisal tentang bertambahnya umur atau berkurangnya. Adapun dalam ilmu Allah, maka tak ada penghapusan atau penetapan.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz XI, halaman 488).
Manusia hanya bisa mengetahui adanya takdir mubram yang menimpanya hanya ketika suatu hal sudah terjadi. Misalnya, hal-hal yang berhubungan dengan kelahirannya, apa-apa yang sudah atau belum dicapai pada usianya sekarang ini dan segala hal yang telah terjadi di masa lalu dan tak mungkin diubah. Manusia bisa tahu umur seseorang telah mubram hanya ketika orang itu sudah positif meninggal. Apabila orang itu masih hidup, maka usianya masih sepenuhnya terlihat mu’allaq sehingga ia dituntut untuk menjaga diri dan berobat bila sakit. Ia dilarang menenggak racun atau melakukan hal yang mencelakakan jiwanya yang membuat usianya menjadi pendek (dalam perspektif manusia tentunya). Demikian juga, ia dituntut untuk hidup sehat dan menjaga diri sehingga usianya bisa semakin panjang (dalam perspektif manusia). Kaidah yang sama berlaku pada segala hal lainnya.
Dengan memahami ketiga perspektif ini, maka segala kebingungan tentang takdir akan mudah terjawab. Seorang muslim dituntut untuk beriman bahwa segala hal sudah diketahui Allah sejak dulu dan pasti terjadi sesuai pengetahuan-Nya, tetapi dia tak boleh menjadikan itu sebagai alasan untuk berdiam diri atau menjadikan takdir sebagai alasan sebab ia tak tahu apa takdirnya. Yang wajib dilakukan oleh manusia adalah berusaha saja menyambut masa depannya. Dalam konteks inilah Nabi bersabda:
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ
“Berusahalah, semua akan dimudahkan.” (HR. Bukhari – Muslim).
Wallahua'lam
Bersandar pada Amal
مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزّ َلَلِ
Al-Hikam Pasal 1
"Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana."
Syarah
Ar-raja adalah istilah khusus dalam terminologi agama, yang bermakna pengharapan kepada Allah Ta'ala. Pasal Al-Hikam yang pertama ini bukan ditujukan ketika seseorang berbuat salah, gagal atau melakukan dosa. Karena ar-raja lebih menyifati orang-orang yang mengharapkan kedekatan dengan Allah, untuk taqarrub.
Kalimat "wujuudi zalal", artinya segala wujud yang akan hancur, alam fana. Menunjukkan seseorang yang hidup di dunia dan masih terikat oleh alam hawa nafsu dan alam syahwat. Itu semua adalah wujud al-zalal, wujud yang akan musnah. Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala.
Asmaul Husna
Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala
Jika kita berharap akan rahmat-Nya, maka kita tidak akan menggantungkan harapan kepada amal-amal kita, baik itu besar atau pun kecil. Dan hal yang paling mahal dalam suluk adalah hati, yaitu apa yang dicarinya dalam hidup. Dunia ini akan menguji sejauh mana kualitas raja (harap) kita kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya.” Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah memberikan rahmat kepadaku.” – H.R. Bukhari dan Muslim
Kamis, 07 Februari 2019
Tuma'ninah & Syahadah
Secara bahasa tuma’ninah berarti tenang dan tentram. Tidak ada rasa was-was atau kawatir, tak ada yang dapat mengganggu perasaan dan pikiran karena ia telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi. Thuma’ninah adalah suasana ketentraman hati karena terpengaruh oleh sesuatu yang lain. Menurut al-Sarraj tuma’ninah sang hamba berarti kuat akalnya, kuat imannya, dalam ilmunya dan bersih ingatannya. Seseorang yang telah mendapatkan hal ini sudah dapat berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Menurut ibnu Qayyim, “kebenaran adalah identik dengan ketentraman, sedangkan kebohongan adalah identik dengan keraguan dan kegelisahan.” Nabi juga bersabda, kebenaran adalah sesuatu yang menenangkan hati.
Thuma’ninah
Waktu shalat adalah waktu singkat yang sangat berharga bagi seorang muslim, karena ia sedang menghadap dan bermunajahat kepada Rabbnya yang Maha Tinggi dan Maha Tinggi dan Maha Agung oleh karena itu hendaknya berusaha untuk meninggalkan segala kesibukan duniawi dan menghadapkan wajah kita kepada Allah dengan penuh khusyu’ dan tunduk mengharapkan keridhoan-Nya akan tetapi banyak diantara kita yang merasakan hilangnya atau berkurangnya khusyu’ dalam shalat kita, dan hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu:
- Karena tidak memahami makna do’a-do’a dan bacaan yang ada dalam shalat.
- Tidak merenungi isi dan kandungan shalat kita.
- Banyaknya beban pikiran yang belum terselesaikan ketika ia hendak melakukan sholat.
- Tidak menghadirkan hati dan jiwa ketika mula takbiratul ihram.
- Tidak menghadirkan kesadaran bahwa diri sedang berhadapan dengan Allah SWT.
- Seringkali tidak tukmaninah dalam shalat.
Thuma’ninah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Rasulullah bersabda:
“Tidak shah sholat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud”.
Abu Abdillah Al-Asy’ari r.a berkata:
“(Suatu ketika) Rasulullah SAW shalat bersama sahabatnya, kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk masjid dan berdiri menunaikan sholat. Orang itu ruku’ dan sujud seperti orang yang mematuk, maka Rasulukkah SAW bersabda ”Apakah kalian menyaksikan orang ini?, barang siapa meninggal dunia dalam keadaan seperti itu (sholatnya), maka dia meninggal dalam keadaan diluar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia merasa cukup (kenyang) dengannya”.
Orang yang tidak thu’maninah dalam shalat, sedang ia mengetahuihukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thu’maninah pada masa lalu. Ia tidak wajib mengulang sholatnya dimasa lalu .
Ada beberapa faktor yang membuahkan kekhusyu’an dalam Shalat
1. Bersiap diri untuk menunaikan shalat.
2. Thuma’ninah dalam shalat.
3. Mengingat mati ketika shalat.
4. Merenungkan ayat atau dzikir yang diucapkan dalam shalat.
5. Membaca seayat demi seayat
6. Membaca dengan tartil dan membaguskan bacaan
7. Merasakan bahwa Allah menjawabnya ketika shalat.
8. Shalat menghadap dan mendekat ke arah sutrah atau pembatas.
9. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri daiats dada.
10. Memandang ketempat sujud .
Musyahadah (المشاهدة ))
Dari segi bahasa musyahadah itu berasal dari rumpun kata Syahida shaahadah yang mempunyai arti bersaksi, menyaksikan, oleh karena itu seseorang belum dapat untuk dikatakan sebagia seorang islam jika orang tersebut belum menyatakan akan dua kalimat syahadah.didalam bermusyahadah ini juga sangatlah dibutuhkan sebab segala peristiwa atau kejadian itu yang pertama ditanyakan adalah adanya penyaksian atau saksi. Untuk penyaksian ini lebih tinggi tingkatannya dari yang kedua tadi.
Akan tetapi kata musyahadah disini berarti menyaksikan, yang berartikan bahwa suatu pandangan batin sebagai suatu penyaksian yang tidak diragukan lagi. Untuk mencapai tingkatan musyahadah ini seseorang harus terlebih dahulu bersungguh-sungguh dengan sepenuh hati demi untuk mengamalkan akan ajaran-ajaran tasawuf untuk meningkatkan maqam berikutnya. Didalam pengertian musyahadah seseorang yang terjun didunia sufi rasanya sulit untuk mencapai pada tingkatan musyahadah ini tanpa adanya usaha atau niat sungguh-sungguh.
Dalam perspektif tasawuf musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat dengan mata kepala. Hal ini berarti dalam dunia tasawuf seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Musyahadah dapat dikatakan merupakan tujuan akhir dari tasawuf, yakni menemukan puncak pengalaman rohani kedekatan hamba dengan Allah. Dalam pandangan al-Makki, musyahadah juga berarti bertambahnya keyakinan yang kemudian bersinar terang karena mampu menyingkap yang hadir (di dalam hati). Seorang sufi yang telah berada dalam hal musyahadah merasa seolah-olah tidak ada lagi tabir yang mengantarainya dengan Tuhannya sehingga tersingkaplah segala rahasia yang ada pada Allah.
Musyahadah itu adalah nampaknya Allah Swt pada hambanya dimana seorang hamba itu tidak melihat apapun didalam beribadah itu adalah dalam pengertian umum, melainkan dia hanyalah berkeyakinan bahwa dirinya telah berhadapan langsung dengan Allah swt. Oleh karena dia tidak lagi memperhatikan apa apa didalam beribadah, karena saking asyiknya dia berkeyakinan bahwa Allah telah berada disampingnya, maka dirinya sendiri tidak di hiraukan lagi. Berpijak dari uraian diatas tersebut bahwa sesungguhnya musyahadah itu merupakan tindak lanjut dari ajaran ihsan yang telah mengajarkan mengenai konsep ibadah yang sesungguhnya dengan satu ukuran, “seakan akan seorang hamba itu benar benar melihat Allah Swt atau Allah Swt
Jarir bin Abdullah berkata
قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِالهِ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا لاَ تُضَامُّونَ أَوْ لاَ تُضَاهُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا ثُمَّ قَالَ فَ ( سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ) (كتاب :كتاب مواقيت الصلاة باب :باب فضل صلاة الفجر رقم الحديث :547 الجزء :1 الصفحة 209 ,صحيح البخاري
Jarir bin Abdullah berkata: “Kami duduk bersama Rasulullah, kemudian beliau memandang bulan yang sedang purnama, lalu beliau bersabda: ”Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu sebagaimana engkau melihat bulan, tidak ada yang menghalangimu untuk melihat-Nya, kalau kamu mampu tidak meninggalkan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya maka lakukannlah. [HR.Bukhari Muslim]
Ma’rifat
istilah ma’rifatullâh, yang secara bahasa berarti mengenal Allâh Azza wa Jalla , termasuk istilah yang cukup populer di kalangan kaum Muslimin. Karena semua yang beriman sepakat meyakini bahwa mengenal Allâh Azza wa Jalla dan mencintai-Nya merupakan kewajiban dan tuntutan yang paling utama dalam Islam. Bahkan istilah ma’rifatullâh selalu diidentikkan oleh para Ulama Ahlus Sunnah dengan kesempurnaan iman dan takwa pada Allah Azza wa Jalla.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allâh Azza wa Jalla )” [Fâthir/35:28].
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba tentang Allâh Azza wa Jalla, maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungan hamba tersebut kepada-Nya…, yang kemudian pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah-Nya.”
Mengenal Allah ini bukan Mengenal melalui panca indera, karena Dia tidak dapat dicapai oleh Panca indera, sebagaimana firman-Nya: Dia tidak dapat dicapai oleh Mata.(Qs. Al An`am 6:103). Mengenal Allah juga bukan dengan Akal fikiran, karena Dia pun tidak tercapai dengan akal fikiran. sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW; Tafakkaru fi alaillah wa la tafakkaru fi Dzatillah azza wa jalla / Berfikir-fikirlah perihal tanda-tanda kebesaran Allah (ciptaan Allah), dan jangan berfikir-fikir terhadap Dzat Allah.(HR. Thabrani, Baihaqi, Bukhari, Nasai, Hakim, Abu Nuaim). Dan Firman Allah; Dan Allah memperingatkan kamu dari (memikirkan) Diri-Nya.
Jadi Ma’rifatullah disini adalah dengan Hati, karena Hanya Hatilah yang mampu menerima Pandangan Allah, sehingga Hati Mendapatkan Cahaya Allah, dan Hati tidak dapat mendustakan apa telah dilihatnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ
عَنْ الشِّرْكِ؛ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ”.
(رواه مسلم (وكذلك ابن ماجه
Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a, beliau berkata, Telah bersabda Rasulullah SAW, “Telah berfirman Allah tabaraka wa ta’ala (Yang Maha Suci dan Maha Luhur), Aku adalah Dzat Yang Maha Mandiri, Yang Paling tidak membutuhkan sekutu; Barang siapa beramal sebuah amal menyekutukan Aku dalam amalan itu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya”
~ Diriwayatkan oleh Muslim (dan begitu juga oleh Ibnu Majah)
Adalah juga termasuk syirik jika seseorang beramal dengan amalan disamping ditujukan kepada Allah SWT juga ditujukan kepada yang selain-Nya.
Makna Istiqomah
Apa arti dari Istiqomah? Masih banyak orang bertanya-tanya apa arti dari kata istiqomah. Kata istiqomah sering di dengar pada sebuah kegiatan keagamaan atau organisasi-organisasi pemuda. Dalam agam islam istiqomah memiliki arti tegak, lurus atau dalam bahasa yang lebih enaknya adalah konsisten.
Para ulama banyak memberikan definisi tentang arti istiqomah:
Istiqomah adalah tidak menyekutukan Allah dengan segala sesuatu. Kutipan dari Abu Bakar Ash Shiddiq R.A.
Istiqomah hendaknya untuk bertahan dalam satu perintah atau tujuan dan juga larangan dan tidak berpaling dari yang lain layaknya seekor musang. Kutipan dari Umar bin Khattab R.A.
Istiqomah adalah ikhlas dalam mengerjakan dalam banyak hal. Kutipan dari Utsman bin Affan R.A.
Istiqomah adalah melaksanakan suatu kewajiban yang sudah ditetapkan. Kutipan dari Ali bin Abi Thalib R.A.
Istiqomah memiliki 3 arti yaitu, istiqomah dengan lisan (bertahan dalam 2 kalimat syahadat), istiqomah dalam dengan jiwa (melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah secara terus-menerus tanpa terputus) dan istiqomah dari hati (melakukan segala sesuatu dengan niat yang ikhlas dan jujur). Kutipan dari Ibnu Abbas R.A.
Istiqomah adalah tetap di atas jalan yang lurus. Kutipan dari Ar Raghib.
Istiqomah mengandung arti bahwa tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah. Kutipan dari An Nawawi.
Istiqomah adalah komitmen terhadap 2 kalimat syahadat dan tauhid sampai bertemu kepada Allah 'Azza wa Jalla. Kutipan dari Para Mujahid.
Istiqomah adalah mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa ke menoleh ke kanan atau ke kiri.
Kutipan dari Ibnu Tamiyah.
Dalam Al-Qur'an Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Q.S Fushilat: 30)
Ayat ini diperkuat dengan sebuah hadits. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, Tolong ajarkan sesuatu kepadaku hal yang paling penting dalam islam dan saya tidak akan lagi bertanya kepada engkau". Kemudian beliau menjawab: "Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (Konsisten dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Intisari Arti dari Istiqomah
Orang yang istiqomah selalu kokoh dalam menjaga aqidahnya dan tidak akan goyang keimanannya dalam menjalani tantangan hidup. Walaupun kantong kering ataupun tebal, Dihadapi oleh bermacam-macam hal yang haram, dicaci maki dan dipuji, sekali sudah konsisten maka tidak akan ada yang mampu meroboh keistiqomahannya.
Jadi yang bisa kita dapatkan dari yang itu semua adalah, istiqomah memiliki arti konsisten dalam melakukan kebaikan. Teguh dalam satu pendirian dan tidak akan tergoyahkan oleh berbagai macam rintangan dalam mendapatkan ridho Allah Ta’ala. Jangan sampai salah dalam mengartikan kata istiqomah ke dalam suatu yang buruk, suatu hal yang buruk janganlah di dukung dan diberi semangat. Cukuplah untuk orang-orang yang berusaha melakukan kebaikan dan diberikan semangat berupa kata konsisten.



















